Pada tahun 1961 telah datang persenjataan dari Negara Rusia berupa Rudal KS (Kometo Systema) sebanyak 50 Unit bersamaan dengan pesawat TU-16 KS. Rudal jenis KS RD-500K yang mempunyai daya dorong engine turbojet ini dilengkapi Radar, Auto Pilot 5 dan Warhead seberat 1.250 Kg. Rudal KS dipasang di pesawat TU-16 KS dengan berat total kurang lebih 3 Ton, Rudal ini berbahan bakar avtur makasimal 1.500 Ltr. Melihat banyaknya Alutsista baru yang masuk ke Negara Republik Indonesia, TNI AU melaksanakan reorganisasi persenjataan. Hal tersebut dilakukan untuk mencapai efesiensi kerja dan hasil yang optimal dalam mengembangkan kebutuhan persenjataan guna mendukung operasi yang dilakukan oleh TNI AU pada saat itu, maka pada tahun 1962 terjadi perubahan organisasi yang dilakukan antara lain dengan pembentukan:
a. Depo Teknik 005 yang berfungsi sebagai pusat perawatan senjata, berlokasi di Pangkalan Udara Iswahjudi (sekarang ditempati oleh Skatek 042) dengan Komandannya adalah Kapten Udara Junus.
b. Depo Teknik 006 yang berfungsi sebagai pusat penyimpanan amunisi berlokasi di Pangkalan Udara Iswahjudi dengan Komandan pertama Mayor Udara S.D. Oma.
c. Depo Teknik 007 yang berfungsi melaksanakan produksi dan modifikasi peralatan senjata, berlokasi di Pangkalan Udara Iswahjudi dan tempatnya menjadi satu dengan Depo Teknik 005. Sebagai Komandan Depo Teknik 007 yang pertama adalah Kapten Udara Robihim.
3. Peleburan Depo Teknik
Sejalan dengan perkembangan organisasi TNI AU serta perkembangan Alutsista yang digunakan TNl AU diadakan perubahan organisasi yang menangani bidang persenjataan. Perubahan organisasi tersebut yaitu Depo Teknik 005 dan Depo Teknik 007 dilebur menjadi satu dan diberi nama Depo Teknik 031. Depo Teknik 031 kemudian berpindah tempat dari Pangkalan Iswahjudi ke Pangkalan Abdulrachman Saleh dengan Komandan pertama Mayor Udara Tedjo Soewarno. Sedangkan untuk Depo Teknik 006 diubah namanya menjadi Depo Teknik 032 yang berfungsi sebagai Arsenal TNI AU. Depo Teknik 032 tetap berlokasi di Lanud Iswahjudi dan sebagai Komandan Depo Teknik 032 adalah Mayor Udara S.D. Oma. Letak Arsenal TNI AU di Pangkalan Iswahjudi dirasakan kurang tepat dipandang dari segi keamanan mengingat Pangkalan lswahjudi digunakan sebagai Home Base pesawat pembom strategis TU-16 beserta perangkat Rudal legendaris KS. Mulai saat itulah dibuat kajian tentang pemindahan Arsenal TNI AU ke wilayah yang memenuhi persyaratan. Hasil pemilihan lokasi yang memenuhi syarat jatuh di daerah Hutan Sentiko Kedunggalar daerah Ngawi. Daerah itu merupakan daerah/kawasan hutan jati milik Perhutani seluas 135 Ha yang ditukar TNI AU dengan daerah/kawasan tanah TNI AU di Dungus yang tidak jadi dipergunakan sebagai tempat pembangunan pabrik Rocket. Pembangunan Arsenal di Kedunggalar dimulai pada tahun 1963 dengan nama Proyek Bangun. Pada tahun pertama, proyek tersebut telah selesai membangun tanggul keliling/pagar, dua buah Gudang dan satu Pos Penjagaan. Dikarenakan adanya masalah dalam pendanaan proyek tersebut terhenti pada tahun 1967.
4. Depo Materiil 067
Pada akhir tahun 1963 dalam rangka pembenahan dan penyempurnaan organisasi dilingkungan Komando Logistik, Arsenal TNI AU diubah namanya menjadi Depo Materiil 067. Depo Materiil 067 sebagai Arsenal TNI AU menyimpan materiil persenjataan yang jumlahnya semakin besar, disamping barang baru dari Eropa Timur masih juga tersimpan barang barang lama eks Belanda dan Jepang. Untuk menampung jumlah barang yang jumlahnya besar tersebut, penyimpanan dibagi menjadi 4 (empat) tempat yaitu:
a. Pangkalan Udara lswahjudi.
b. Depo Materiil 067.
c. Nitikan Magetan.
d. Tasikmalaya.
Dalam rangka memenuhi kebutuhan tenaga terampil di Arsenal, maka dimulai pendidikan untuk Tamtama "Juru Mesin" yang dilaksanakan secara intern di Depo Materiil 067. Pada tanggal 10 Februari 1965, Komandan Depo Materiil 067 Mayor Udara S.D. Oma meninggal dalam suatu kecelakaan, meninggalnya Mayor Udara S.D. Oma yang tiba-tiba, menjadikan Depo Materiil 067 kekosongan kepemimpinan. Untuk mengisi kekosongan kepemimpinan di Depo Materiil 067 ditunjuklah pejabat sementara Kapten Udara Karso Karta Atmadja sebagai "CareTaker", sebelum ditunjuk Komandan Depo Materiil 067 yang baru.
Pada tanggal 30 Desernber 1966 dengan Surat Keputusan nomor 143-PERS-MP-1966 ditunjuklah Mayor Udara Benjamin Parwoto sebagai Komandan Depo Materiil 067 yang baru.
5. Wing Logistik 060
Berdasarkan Surat Keputusan Men/Pangau nomor 166/1966, Depo Materiil 067 diganti namanya menjadi Wing Logistik 060. Tugas utama dari Wing logistik 060 adalah sebagai Arsenal TNl AU dan perawatan peluru kendali.
Peresmian menjadi Wing Logistik 060 dilaksanakan pada tanggal 1 Maret 1967 dengan Mayor Udara Benjamin Parwoto tetap sebagai Komandan Wing Logistik 060. Wing Logistik 060 berkedudukan di Lanud Iswahjudi Madiun mempunyai 4 (empat) Satuan Pelaksana dibawahnya yaitu Skadron Teknik 61, Skadron Teknik 64, Skadron Materiil 62, dan Skadron Materiil 63. Satu tahun kemudian, tepatnya tanggal 18 Desember 1968 dengan Keputusan nomor 156/PERS/PLM/1968 terjadi pergantian Komandan Wing Logistik 060. Komandan Wing Logistik 060 Letnan Kolonel Benjamin Parwoto digantikan oleh Letnan Kolonel Subagijo. Kepemimpinan Letnan Kolonel Subagijo tidak berlangsung lama, yaitu kurang dari satu tahun. Kemudian dengan Keputusan nomor 88/PERS-PLM/1969 tanggal 20 Juni 1961 Mayor Udara Sunario Sumario diangkat sebagai Komandan Wing Logistik 060 menggantikan Letnan Kolonel Subagijo. Pasca pemberontakan G-30 S PKI, Negara Indonesia mengalami pergolakan politik dikarenakan adanya beberapa Jenderal yang mempunyai peran besar dalam kepemimpinan Negara menjadi korban kegananasan gerakan G 30 S PKI. Pergolakan politik pada saat itu menyebabkan peralihan kekuasaan dari Orde Lama ke Orde Baru. Kebijakan pemerintah Orde Baru yaitu berupa pemutusan hubungan diplomatik dengan RRC dan Uni Soviet yang berbasis komunis. Pemutusan diplomatik ini menimbulkan efek yang sangat besar. Perlahan-lahan kekuatan TNl AU menjadi lumpuh, karena penghentian pengiriman suku cadang dari negara-negara Blok Timur. Pada tahun 1970 hampir semua jenis pesawat dari negara Blok Timur dinyatakan grounded oleh Mabes TNI AU, walaupun belum ada keputusan pemerintah untuk mencoret armada pesawat yang kekurangan suku cadang tersebut, amunisi dan persenjataan yang terdapat di Wing Logistik 060 juga mengalami nasib yang sama, banyak tersimpan tetapi tidak berfungsi. Pesawat-pesawat dari Negara Blok Timur yang tidak beroperasi mengakibatkan kevakuman operasional sehingga amunisi dan persenjataan yang ada di Pangkalan-Pangkalan, Bakung dan Nitikan kurang diperhatikan. Pada tahun 1970 sampai dengan awal tahun 1980 dimulai babak baru yaitu Negara Republik Indonesia melengkapi Alutsistanya dengan melaksanakan pembelian pesawat dan persenjataannya serta amunisi yang berasal dari Negara Blok Barat.
6. Depo Logistik 060
Pada tahun 1970 terjadi perubahan nama dari Wing Logistik 060 menjadi Depo Logistik 060. Dengan adanya perubahan nama menjadi Depo Logistik 060 maka empat satuan dibawahnya juga mengalami perubahan nama yaitu Satuan Pemeliharaan 061, Satuan Pemeliharaan 064, Satuan Pembekalan 062, dan Satuan Pembekalan 063.
Kemudian seiring perubahan nama kesatuan tersebut, terjadi juga pergantian kepemimpinan Depo Logistik 060. Sebagai Komandan yang baru dijabat oleh Mayor Udara Martopo menggantikan Mayor Udara Sunario. Kondisi TNl AU pada masa itu mengalami kevakuman operasional karena banyak pesawat-pesawat yang berasal dari negara Blok Timur dinyatakan grounded.
Walaupun masih banyak amunisi dan persenjataan bekas negara-negara tersebut tersimpan di Depo Logistik 060. Salah satunya adalah Rudal KS yang masih mendapat perawatan berupa pemanasan engine secara rutin, walaupun pesawat TU-16KS-1D telah dinyatakan grounded. Kepemimpinan Mayor Udara Martopo berlangsung selama satu tahun. Kemudian pada tahun 1971 Komandan Depo Logistik 060 diganti oleh Letkol Udara Machfud Jasin.
Pada tahun 1971 dengan Surat Keputusan nomor 18/PERS-KS/1971 tanggal 17 Maret 1971, Letnan Kolonel Udara Machfud Jasin diangkat sebagai Komandan Depo Logistik 060. Pada pertengahan Januari tahun 1973 TNI AU kedatangan pesawat F-86 Sabre dari Australia kemudian pada tanggal 23 Agustus 1973 TNI AU juga kedatangan pesawat lagi yaitu pesawat T-33 sebanyak 12 Unit dari Amerika Serikat. Kedua jenis pesawat tersebut merupakan pesawat bekas. Pesawat F-86 Sabre adalah pesawat bekas perang Korea sedangkan T-33 adalah pesawat bekas perang Dunia ll.
Pada masa itu Letkol udara Machfud Jasin berhasil melaksanakan penyesuaian sistem senjata pesawat T-33 walaupun hasilnya belum sempurna. Kemudian mampu melaksanakan modifikasi peluru Kal. 7,62 ball menjadi peluru hampa dengan mengganti bullet peluru tersebut dengan bullet yang terbuat dari kayu randu. Peluru hampa ini digunakan untuk mendukung jajaran di bawah Komando Pendidikan Angkatan Udara (Kodikau) dalam melaksanakan latihan kemiliteran.
Pada saat itu perawatan Rudal KS (Kometo Systema) dengan cara running engine secara rutin tetap dilaksanakan. Pemanasan dilakukan satu kali dalam sebulan di Satuan Pemeliharaan 061. Rudal yang pada masanya pernah menggetarkan Asia dan sangat berjasa dalam menghadapi konfrontasi dengan Belanda dalam merebut Irian Barat pada operasi TRIKORA. Perawatan tersebut berlangsung sampai dengan akhir tahun 1976, karena pada tahun tersebut semua pesawat TU-16 KS dimusnahkan, sehingga rudal KS yang berada di Depo Logistik 060 juga ikut dimusnahkan.
Pada tahun 1976 dengan Surat Keputusan nomor 18/PERS-KS/1976 tanggal 11 Maret 1976, Letnan Kolonel Sen Himawan Pradono diangkat sebagai Komandan Depo Logistik 060 yang baru.
Pada masa kepemimpinannya TNI AU mendapat Alutsista baru, yaitu pesawat OV-10 Bronco dari Amerika Serikat. Pesawat ini merupakan pesawat peninggalan perang Dunia II yang berkecepatan rendah dan dikategorikan sebagai pesawat COlN (Counter Insurgency) yang banyak berguna dalam membantu operasi militer darat. Depo Logistik 060 saat itu telah banyak mendukung operasional sistem persenjataan di pesawat OV-10 Bronco, diantaranya yaitu melaksanakan rekondisi Rocket Corva, pembuatan bom bakar Napalm 500 Kg yang dapat dipasang pada pesawat OV-10. Bom bakar Napalm 500 Kg dibuat untuk mendukung Operasi Seroja Timor Timur. lsian bom Napalm terbuat dari Granular Powder yang dicampur dengan BU-100 (Bensin Udara oktan 100). Pada saat operasi di Timor Timur terjadi kecelakaan yang menimpa Kapten Sen Sudirman. Beliau beranggotakan Prada 10 Hatta, Sunyoto Prapto, Mumun dan Adang Suherman. Kecelakaan tersebut terjadi karena ledakan sebuah Fuse bom Napalm. Akibat kejadian ini Kapten Sen Sudirman kehilangan sebelah matanya. Pada waktu itu Depo Logistik 060 juga melaksanakan operasi Musnah, yaitu pelaksanaan demolisi (pemusnahan) amunisi secara besar-besaran. Amunisi yang dimusnahkan berupa bom OFAB, SAP, Warhead KS dan Roket Mosquito.
Dalam pelaksanaan demolisi untuk isian yang berbentuk cair didemolisi di Blitar Selatan, sedangkan isian yang berbentuk padat dilaksanakan pemusnahan di Selat Bali. Pada tahun 1976 dilaksanakan Operasi Boyong I, yaitu pemindahan amunisi dari Tasikrnalaya ke Depo Logistik 060.
Selanjutnya pada tahun 1978 dilaksanakan Operasi Boyong II, yaitu pemindahan persenjataan dari seluruh Indonesia ke Depo Logistik 060. Sehingga sejak saat itu Depo Logistik 060 disamping berfungsi sebagai Arsenal, berfungsi juga sebagai Depo Perneliharaan Senjata. Sistem senjata yang ada di pesawat T-33 belum sempurna sehingga pada bulan Mei 1978 prototipe pesawat T-33 berhasil dipersenjatai oleh Depo Logistik 060 bekerjasama dengan Litbangau dan melaksanakan uji coba di AWR Pulung Ponorogo. Hasilnya cukup lumayan walaupun tidak presisi namun semua sistem berjalan normal.
Persenjataan yang dipasang adalah sistem bidik KB-13 yang diambil dari eks pesawat bomber di Skadron 21 dan 22. Dengan melaksanakan modifikasi sistem senjata, pesawat T-33 dapat membawa 2 peluncur Roket LAU-68 untuk jenis roket FFAR dan 2 bomb udara yang memiliki berat 50 kg. Pada pesawat T-33 juga dipasang 2 senapan kaliber 12,7 mm dengan muatan masing masing 250 butir peluru.
7. Wing Materiel 60
Pada tahun 1978 kembali terjadi perubahan nama satuan, yaitu Depo Logistik 060 diganti namanya menjadi Wing Materiel 60, atau biasa disingkat Wingmat 060. Kemudian pada tahun 1979 dengan Surat Keputusan nomor Skep/03/PERS-KS/1979 tanggal 19 Mei 1979 diangkat Kolonel Sen Oedyanto H.S. sebagai Komantan Wing Materiel 60.
Pada masa itu Wing Materiel 60 mampu melaksanakan modifikasi Roket Letchka menjadi Corva (ground to air menjadi air to ground). Selain itu dilakukan juga modifikasi Roket TNI AL yaitu Sura menjadi Corva, melaksanakan standarisasi senjata M-2, pembuatan target banner, 11 pengecatan ujung bullet agar dapat terdeteksi perkenaannya pada target banner dan pengelolaan Pabrik Zat Asam yang berlokasi di Telaga Wurung. Pada tahun 1980 didirikan Laboratorium Balistik untuk melengkapi Laboratoriurn Mesiu yang sudah ada sebelumnya. Kemudian pada tanggal 10 Juni 1981 Wing Materiil 60 melaksanakan pemusnahan komponen peluru kendali SAM-75 atau SA-2 di wilayah Kodau V Gorda, Serang.
Pelaksanakan pemusnahan peluru kendali tersebut dapat berjalan lancar dan aman. Pada tahun 1983 dengan Surat Keputusan nomor Skep/29-PKS/IX/1983 tanggal 5 September 1983 diangkat Kolonel Mat Slamet Djodi sebagai Komandan Wing Materiil 60 menggantikan Kolonel Sen Oedyanto H.S. Saat itu Wingmat 60 melaksanakan penghibahan senjata Chung kal 7,62 mm kepada Polisi Republik Indonesia (Polri). Hibah yang pertama sebanyak +2.000 Pucuk, kemudian hibah yang kedua sebanyak +8.000 Pucuk. Pada masa kepemimpinan Kolonel Mat Slamet Djodi, beliau melakukan banyak perubahan, diantaranya yaitu modifikasi Aden Gun dari pesawat Avon Sabre ke pesawat MK 53 dan rekayasa Gun Pod pesawat OV-10. Meskipun ide dan jerih payah yang dilakukan saat itu belum berhasil, namun semangat untuk melaksanakan perubahan dalam rangka mengaplikasikan ide-idenya tidak surut. Wingmat 60 juga membuat Gun Pod mini yang dipasang pada pesawat latih T-34 Charlie, sehingga pesawat tersebut mempunyai kemampuan yang tidak kalah hebatnya dengan pesawat tempur lain. Selain itu juga melaksanakan modifikasi bomb rack dari pesawat T-33 untuk dipasang di pesawat T-34.
Kedua kegiatan modifikasi di atas dilaksanakan untuk mendukung program latihan siswa Sekolah Penerbangan dan Taruna AAU di Lanud Adi Sucipto Jogjakarta. Beberapa kegiatan lain yang tidak kalah pentingnya yaitu melaksanakan pemasangan senjata M-2 pada pesawat Helikopter Puma dan melaksanakan modifikasi sponson OV-10 dari senjata M-60 C Kal. 7.62 mm menjadi senjata M-2 Kal. 12.7 mm.
Kedua Proyek ini dipimpin oleh Mayor Budiman. Pada modifikasi sponson OV-10 Bronco masih terdapat kekurangan yaitu terjadi kerusakan pada bodi pesawat karena adanya efek blast saat penembakan. Kegiatan modifikasi dievaluasi kembali yang pada akhirnya diputuskan untuk mengurangi efek blast dipasanglah alat berupa blast arrester, yang pemasangannya diatur 12 sedemikian rupa sehingga efek blast tidak mengenai body pesawat. Disamping itu Wingmat 60 saat itu juga melaksanakan modifikasi mobil Land Rover milik Paskhas dengan memasang senjata M-2 dan DSHK dengan Mounting yang dapat berputar 180°.
Pada tanggal 27 Desember 1983, Wingmat 60 melaksanakan pemusnahan amunisi dan material senjata di Satuan Radar Congot, dengan Ketua tim Mayor Sen Zaenuri dan beranggotakan Mayor Sen F.X Bambang Sumardiko. Pelaksanaan pemusnahan tersebut dilakukan dengan dua cara yaitu diledakkan dan dibakar.
8. Depo Senjata dan Amunisi 60
Pada tahun 1985 dengan Surat Keputusan Nomor : Skep/23/III/1985 dalam rangka reorganisasi di jajaran TNI AU terhitung mulai tanggal 1 April 1985 Wing Materiil 60 diganti namanya menjadi Depo Senjata dan Amunisi 60 yang disingkat Deposenamo 60.
Perubahan nama tersebut secara otomatis diikuti perubahan nama satuan-satuan dibawahnya. Deposenamo membawahi beberapa satuan yaitu Bengkel Pemeliharaan (Benghar) 61, Bengkel Pemeliharaan (Benghar 64), Gudang Persediaan Pusat (GPP) 62, Gudang Persediaan Pusat (GPP) 63, Laboratorium Senjata dan Demolisi 65, dan Pabrik Zat Azam (Pazam) yang berkedudukan di Lanud Iswahjudi Madiun.
Pada tahun 1986 Deposenamo kedatangan Alutsista baru yaitu Rudal AIM-9P-2. Rudal AIM-9P-2 merupakan Rudal Air to Air jarak pendek untuk mempersenjatai pesawat F-5 Tiger. Pemeliharaan Rudal AIM-9P-2 dilaksanakan oleh Benghar 61. Pada tahun 1987 terjadi pergantian Komandan Deposenamo yaitu Kolonel Mat Slamet Djodi diganti oleh Kolonel Tek Ir. Widagdo. Pada masa kepemimpinan beliau, Depo Senamo 60 melakukan proyek penggantian mesin Triple Gun Hispano Suiza dan Alla Gun untuk mendukung Paskhasau. Proyek yang dilaksanakan di Kedunggalar, terjadi musibah ledakan di Kedunggalar yang mengakibatkan lima orang korban, empat orang honorer dan satu orang anggota atas nama Peltu Sumarto. Sesuai dengan Skep Kasau nomor Skep/39/III/1987 tanggal 30 Maret 1987 tentang Perubahan Papan Nama Satuan dan Kop Surat, dilanjutkan dengan Instruksi Dankoharmatau nomor lns/04/lX/87, dilaksanakan perubahan singkatan Depo Pemeliharaan Persenjataaan dan Amunisi 60 yang disingkat Deposenamo 60 menjadi Deposenmu 60.
Widagdo Pada tahun 1989 dengan Surat Keputusan nomor Skep/14-PKS/Vl/1989 tanggal 27 Juni 1989 Kolonel Tek Komarudin Noor diangkat sebagai Komandan Deposenmu 60. Pada masa kepemimpinan beliau dilaksanakan perpanjangan CAD/PAD fire estinguisher pesawat MK-53. Disamping itu Deposenmu 60 juga melaksanakan rekondisi Roket FFAR pertama yaitu melaksanakan modifikasi Roket FFAR dari low speed menjadi high speed dengan merubah nozzle untuk memenuhi kebutuhan Roket pada pesawat high speed. Pada tahun yang sama yaitu tahun 1989 Deposenmu kedatangan Alutsista baru yaitu Rudal AIM-9P-4 yang datang bersamaan dengan Pesawat F-16 A/B. Rudal AIM-9P-4 merupakan Rudal Air to Air jarak pendek untuk mempersenjatai Pesawat F-16 A/B. Pemeliharaan Rudal tersebut sebelum digunakan dilaksanakan di Benghar 61.
Dalam bidang pendidikan, beliau merintis berdiriya Pendidikan Kualifikasi Khusus Demolisi l. Namun pada saat itu terjadi kecelakaan yang diakibatkan karena Roket Catapult yang digunakan untuk latihan siswa meledak, sehingga mengakibatkan 15 siswa luka-luka dan satu orang meninggal dunia atas nama Serda Sutedjo. Gb.3 Kolonel Tek Komarudin Noor Pada tahun 1991 dengan Surat Keputusan nornor Skep/20-PKS/IX/1991 Kolonel Tek Palal A. diangkat sebagai Komandan Deposenmu 60.
Pada masa beliau, Deposenmu 60 melaksanakan beberapa kegiatan besar diantaranya yaitu demolisi bom eks Negara Blok Timur yang dilaksanakan di Pacitan, rekondisi roket FFAR II serta modifikasi roket FFAR 14 2,75" dari MK 40 Mod 3 menjadi MK 4 Mod 10. Sehubungan dengan kegiatan modifikasi roket FFAR, maka pada saat itu dibuka Pendidikan Pemeliharaan Khusus (Dikharsus) Roket FFAR 2,75'' untuk pertama kalinya. Kegiatan besar lainnya yang dilaksanakan oleh Deposenmu 60 pada saat itu yaitu melaksanakan pemasangan aksesoris pesawat Harvard berupa Gun Pod dalam rangka Gebyar Dirgantara lswahyudi Tahun 1996. Kemudian Deposenmu 60 juga melaksanakan perbaikan feeding sistem senjata M-2 pada pesawat OV-10 Bronco.
Pada era kepemimpinan beliau, terjadi ledakan sumur di Kedunggalar. Ledakan ini disebabkan karena terjadinya reaksi kimia antara tanah dengan isian peluru dan juga faktor kondisi tanah yang tidak stabil. Dari dua sumur yang meledak tersebut, satu buah sumur tidak dapat terdeteksi walaupun sudah meminta bantuan dari pihak BMG (Badan Meteorologi dan Geofisika). Pada tahun 1993 Deposenmu 60 kembali kedatangan Alusista baru yaitu Rudal Maverick AGM-65G. Rudal tersebut merupakan Rudal Air To Ground untuk mempersenjatai pesawat F-16 A/B, Hawk MK-53 dan Hawk-100/200. Komandan Deposenmu 60 memberikan perhatian khusus terkait pembinaan moral dan spiritual kepada anggota Deposenmu 60. Sehingga pada saat itu diputuskanlah untuk dibangun Masjid Amanah sebagai tempat disamping untuk beribadah bagi yang beragama muslim, digunakan juga sebagai tempat untuk pembinaan rohani anggota Deposenmu 60 yang beragama Islam. Gb.4 Kolonel Tek Palal Atmosudarmo Pada tahun 1994 dengan Surat Keputusan nomor Skep/07-PKS/V/1994 tanggal 27 Mei 1994, Kolonel Tek Sugiyono Soekadis diangkat sebagai Komandan Deposenmu 60.
Pada masa kepemimpinan Kolonel Tek Sugiyono banyak dilaksanakan kegiatan demolisi, diantaranya yaitu demolisi recoilles dan bom-bom eks Negara Blok Timur di bawah pimpinan Kapten Tek Sugeng Ariyanto. Selain itu dibentuk kerja sama antara Deposenmu 60 dengan IPTN dalam rangka produksi roket FFAR. 15 Gb.5 Kolonel Tek Sugiyono Soekadis Pada tahun 1996 dengan Surat Keputusan nomor Skep/07-PKS/IV/1996 tanggal 17 April 1996, Kolonel Tek Bachtiar Sudarman diangkat sebagai Komandan Deposenmu 60.
Pada masa kepemimpinan beliau, Deposenmu 60 kembali melaksanakan kegiatan demolisi di bawah pimpinan Kapten Tek Sugeng Ariyanto. Dalam tahun yang sama yaitu pada tahun 1997 Deposenmu 60 melaksanakan 2 kali kegiatan Demolisi, antara lain kegiatan Demolisi berupa Shell Recoilles, Rocket SG-82 AT dan Fuze SG-82 seberat 128,389 Ton, dilaksanakan di Pacitan pada tanggal 15 s.d. 29 September 1997. Kemudian pada tanggal 1 s.d. 31 September 997 dilaksanakan demolisi di Lanud Manuhua berupa bom dan Granat seberat 5,259 ton serta dilaksanakan juga pembakaran amunisi darat dan udara seberat 25 ton. Pada saat itu di Deposenmu 60 terjadi pemekaran organisasi dengan penambahan kekuatan menjadi 5 (lima) Satuan. Penambahan satuan tersebut yaitu dibentuknya Satuan Laboratorium Mesiu 65 atau disingkat Satlabmes 65 dan sebagai Komandan pertamanya yaitu Kapten Tek Sugeng Ariyanto. Pada tahun 1998 dengan Surat Keputusan Nomor: Skep/04-PKS/IIl/1998 tanggal 31 Maret 1998, Kolonel Tek Djumingan diangkat sebagai Komandan Deposenmu 60 menggantikan Kolonel Tek Bachtiar Sudarman.